Sabtu, 17 Januari 2009

pengukuran kinerja

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM
PENGUKURAN KINERJA DENGAN METODE INTEGRATED
PERFORMANCE MEASUREMENT SYSTEMS
(Studi Kasus: Jurusan Teknik Industri Universitas MUHAMMADIYAH GRESIK)

ABSTRAK
Untuk menjamin kualitas pendidikan di Jurusan Teknik Mesin, diperlukan sebuah rancangan sistem pengukuran kinerja (SPK) yang terintegrasi dengan metode IPMS (Integrated Performance Measurement Systems). Dengan metode IPMS, Key Performance Indicators (KPI) Jurusan Teknik Mesin ditentukan berdasarkan stakeholder requirement melalui empat tahapan yaitu; identifikasi stakeholder requirement, external monitor, penetapan objectives, dan identifikasi KPIs. Hasil perancangan SPK di Jurusan Teknik Mesin Universitas Mataram, dapat mengidentifikasi 38 KPIs yang dikelompokkan dalam 9 kriteria kinerja Jurusan Teknik Mesin, yaitu; kurikulum, mahasiswa, finansial, SDM, administrasi akademik, proses pembelajaran, alumni, evaluasi dan pengendalian, dan external party.
Kata Kunci : Sistem Pengukuran Kinerja, IPMS, Teknik Mesin Unram.

ABSTRACT
To assure the quality of education in the Department of Mechanical Engineering, we need to design an integrated performance measurement system. For that purpose, we used the IPMS (Integrated Performance Measurement Systems) method. Using the IPMS method, Key Performance Indicators (KPIs) of the Department of Mechanical Engineering were determined by pursuant to stakeholder requirement through four steps. Those are identifying the stakeholder requirement, external monitor, stipulating objectives, and identification of KPIs. Performance measurement system with the IPMS method in the Department of Mechanical Engineering of Mataram University can be identified into 38 KPIs grouped in 9 criterias of performance of the Department of Mechanical Engineering, that are curriculum, student, financial, human resources, administration academic, teaching and learning, alumnus, evaluation and operation, and externalparty.
Keywords: Performance Measurement System, IPMS, Mechanical of Engineering Unram.
1. PENDAHULUAN
Salah satu aspek kritis dari setiap usaha yang dilakukan adalah apakah usaha tersebut akan berhasil diselesaikan (sukses) untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Pertanyaan tersebut berlaku juga untuk penelitian yang produk penelitiannya berupa objek yang harus terukur oleh seperangkat pengukuran tertentu. Pertanyaan mengenai usaha penelitian apa yang harus dipertimbangkan keberhasilannya masih menjadi topik perdebatan hangat serta membuka pencarian suatu mekanisme efektif dan menjadi indikasi bagaimana penelitian harus diuji.
Indikator kesuksesan penelitian merupakan hal yang sangat penting. Ini merupakan jalan efektif untuk menentukan kinerja dari penelitian dan nilai tambah suatu hasil penelitian. Di beberapa negara seperti di Indonesia penggunaan indikator keberhasilan untuk menguji penelitian secara umum telah dilakukan, namun tidak ada bukti yang kuat mengenai adanya suatu model indikator keberhasilan standar yang berlaku umum serta menyeluruh. Dalam setiap negara, institusi penelitian dan atau lembaga penelitian boleh menggunakan skema, mekanisme, dan standar yang berbeda untuk menguji outcome penelitian yang sesuai dengan ciri penelitiannya, terlebih lagi seiring dengan berjalannya waktu, interpretasi mengenai indikator kesuksesan suatu penelitian berubah untuk menjawab perubahan karakteristik penelitian.
Penggunaan indikator kinerja perlu diperhatikan jika indikator tersebut akan diterapkan dalam perekomendasian pada investigasi yang dilakukan. Bourke dan Butler (1993) mengobservasi bahwa keistimewaan mendasar dari penelitian modern adalah sangat multidisiplin, jadi penggunaan indikator kinerja harus mengamati struktur intelektual dan orientasi lapangan dari unit yang diteliti. Lynn Grigg (1993) selanjutnya mencermati bahwa sepanjang dekade penelitian internasional mengenai indikator kinerja hingga saat sekarang ini belum ada konsensus mengenai indikator yang disepakati untuk luaran dan impact suatu penelitian. Tambahan lagi dalam menggunakan indikator, Grigg mengingatkan bahwa agar proses evaluasi menjadi lebih efektif, maka perlu dimasukkan aspek pengembangan atau improvement-oriented planning dan intention. Berdasarkan hal tersebut diatas perlu dipahami bahwa indikator kinerja untuk penelitian tidak bersifat universal dan statis, melainkan harus sesuai dengan perubahan karakteristik penelitian itu sendiri.
Perkembangan indikator kinerja penelitian atau sukses indikator penelitian tergantung kepada setting dari penelitian itu sendiri. Indikator keberhasilan penelitian individual berbeda dari penelitian institusi yang mengawasi dan mengatur penelitian dengan skala yang lebih luas. Begitu pula halnya dengan indikator keberhasilan penelitian di universitas yang berbeda dari penelitian non universitas. Perbedaan tidak terletak pada skema pendanaan tetapi lebih pada kenyataan bahwa penelitian di universitas juga terkait dan melayani pendidikan. Konsekuensinya pengukuran keberhasilannya harus berbeda juga.
Secara umum indikator kesuksesan dapat dikembangkan dan diimplementasikan dalam dua level, yakni secara makro dan secara mikro. Tingkat mikro adalah untuk penelitian individual, sedangkan tingkat makro adalah untuk penelitian yang bersifat umum.
Pentingnya pengukuran kinerja tidak hanya diperlukan dan dilakukan dalam dunia bisnis tetapi juga dalam dunia pendidikan. Demikian pentingnya pengukuran kinerja dalam pengelolaan Perguruan Tinggi atau dunia pendidikan, maka Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi memasukkannya dalam format manajemen baru yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara berkelanjutan. Peningkatan kualitas pendidikan secara berkelanjutan dilakukan dengan memasukkan penilaian, akreditasi dan evaluasi diri institusi yang dilakukan terhadap perguruan tinggi baik negeri maupun swasta (Soehendro, 1996).
Dengan membentuk Badan Akreditasi Nasional (BAN), Departemen Pendidikan Nasional berusaha mengawasi dan membina mutu pendidikan tinggi. Mutu Pendidikan sebagai kewajiban konstitusinya dengan menjadikan beberapa indikator kinerja dari suatu Perguruan Tinggi sebagai parameternya. Terlepas dari manfaat yang diperoleh, sistem penilaian kinerja Badan Akreditasi Nasional (BAN) masih terdapat beberapa kelemahannya. Kelemahan yang utama adalah karena lebih menekankan pada penilaian terhadap kriteria dan persyaratan perizinan atau pelaksanaan Perguruan Tinggi, sehingga lebih bersifat administratif. Padahal pengenalan kualitas kinerja untuk merencanakan kegiatan fungsional menuju peningkatan kualitas yang berkelanjutan masih belum terwujud sepenuhnya (Vanany, 1999). Agar kualitas kinerja berkelanjutan, perlu dikorelasikan dengan strategi jangka panjang dengan merujuk pada visi, misi yang telah ditetapkan. Menurut Brojonegoro (1999) dalam makalah pada Teaching Improvement Workshop, menekankan agar perguruan tinggi di Indonesia menyusun rencana strategis jangka panjang untuk merealisasikan visi dan misi yang telah ditetapkan. Dari rencana strategis tersebut kemudian diturunkan menjadi rencana operasional yang diimplementasikan setiap tahun. Dengan adanya rencana tersebut maka keterkaitan antara program dengan target pencapaian dapat diketahui dan ini yang merupakan
salah satu indikator kinerja perguruan tinggi. Belum adanya sistem kearsipan yang rapi dan teratur, tidak ada sistem database yang memadai, sistem administrasi yang belum teratur, belum efektifnya evaluasi yang berkelanjutan dari kesesuaian kurikulum dengan kualitas lulusan yang dibutuhkan oleh pemakai lulusan, tidak adanya kontrol terhadap implementasi kurikulum dan silabus pada proses belajar mengajar, dan lain-lain. Dengan demikian banyak dan kompleknya permasalahan yang ada, maka Jurusanberusaha mengambil langkah-langkah prioritas dalam menyelesaikan permasalahan dan untuk meningkatkan kinerjanya. Ada tiga prioritas yang akan dilakukan untuk meningkatkan kinerja (performance) Jurusan Teknik Mesin yaitu: pembenahan manajemen pelayanan Jurusan, manajemen pembelajaran, manajemen hubungan dengan dunia luar. Untuk mengukur tingkat keberhasilan, efisiensi, dan efektivitas dari kegiatan yang dilaksanakan, diperlukan sebuah sistem pengukuran kinerja (SPK) Jurusan dan implementasinya.Sampai saat ini sistem pengukuran kinerja dan implementasinya di Jurusan Teknik Industri UMG belum ada.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan perancangan dan implementasi sistem pengukuran kinerja di Jurusan Teknik Industri UMG. Dengan perancangan sistem pengukuran kinerja dan implementasinya diharapkan dapat mewujudkan manajemen Jurusan Teknik Industri yang terintegrasi dengan jaminan mutu. Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk merancang sistim pengukuran kinerja di Jurusan Teknik Industri UMG. Secara lebih detail tujuan dari penelitian ini adalah sebagaiberkut:
1. Menentukan ukuran-ukuran kinerja (measures) yang biasa disebut KPI.
2. Memperoleh rancangan/cetak biru SPK Jurusan Teknik Industri UMG.
1.2. Indikator Keberhasilan Riset
Indikator untuk penelitian individual ditekankan pada pengukuran sejauh mana tingkat keberhasilan suatu penelitian individual dibandingkan terhadap seperangkat pedoman yang telah ditetapkan. Jika penelitian dilihat sebagai suatu sistem, indikator kesuksesan penelitian dapat dibagi dalam empat aspek. Pada setiap aspek, penelitian individual harus dilakukan. Walaupun harus diuji secara terpisah, penilaian sistem penelitian tersebut harus mampu mengarah pada kinerja penelitian individual secara menyeluruh.
1.2.1. Indikator Masukan
Indikator kinerja input digunakan untuk menilai input dari suatu sistem penelitian individual, yakni berupa pengukuran kualitas sumber yang digunakan untuk menjalankan suatu penelitian, seperti:
1- kualitas sampel (data terkini, time series data)
2- kualitas pakar yang berkaitan dengan data
3- kualitas dan kuantitas sumber dana
4- sistem pendanaan
5- jumlah SDM dan kepakaran serta pengalaman material
6- kualitas sistem informasi
7- pengukuran individual lainnya
1.2.2. Indikator Proses
Selama pelaksanaan penelitian, aspek berikut ini dapat digunakan sebagai indikator kinerja:
1- efisiensi aktivitas penelitian
2- individual versus penelitian multi dan cross – disiplin
3- metodologi penelitian
4- kemajuan pelaksanaan tahapan penelitian
5- metode komunikasi didalam tim penelitian
6- kuantitas dan kualitas laporan kemajuan dalam menyampaikan kemajuan penelitian kepada stakeholders.

Aspek di atas akan mengindikasikan bagaimana penelitian individual dilaksanakan dan dihasilkan. Pelaksanaan, pengukuran indikator kinerja diatas secara umum diterapkan selama proses monitoring berlangsung. Indikator kinerja diatas dianggap kritis karena indikator tersebut mengukur kemampuan penelitian untuk tetap berjalan selama pelaksanaan penelitian dalam upaya mencapai tujuan yang diharapkan. Kegagalan menjaga progresivitas penelitian akan membawa kegagalan pencapaian tujuan.
1.2.3. Indikator Luaran

Penilaian mekanisme penelitian individual yang mungkin paling umum dilakukan adalah mengukur output-nya. Kinerja penelitian dapat diuji berdasar pada kualitas output-nya yang dindikasikan dengan:
1. Produced output
Produced output merupakan pengukuran output penelitian yang didasarkan pada hasil penelitian. Indikator output yang dihasilkan antara lain:
1- jumlah publikasi
2- jumlah paten
3- jumlah pasal dalam buku
4- jumlah makalah seminar dipublikasi

2. Consumed output
Consumed output adalah indikator kinerja yang dihasilkan dari penggunaan/aplikasi output penelitian. Indikator ini umumnya mengukur bagaimana output penelitian individual dapat mempengaruhi dan digunakan atau dipakai oleh peneliti lain atau aktivitas pendidikan.
Indikator untuk consumed output adalah:
1- Jumlah sitasi dalam paper skala nasional dan internasional, dan
2- Jumlah bahasan dan doktor yang dihasilkan, untuk kasus penelitian akademik
1.2.4. Indikator hasil
Pengujian terakhir terhadap penelitian individual adalah dengan melakukan pengukuran dampak produk penelitian individual secara menyeluruh. Umumnya keberhasilan suatu penelitian diukur terhadap bagaimana suatu outcome penelitian dapat berdampak secara internal dan eksternal kepada lingkungan komunitas dari penelitian.
1- Internal impact, secara internal, riset impact diukur berdasarkan perkembangan metode teori dan inovasi baru sesudah menentukan kinerja output, kemudian ditentukan berapa lama produce output menjadi knowledge domain dari sains.
2- External impact, indikator untuk riset outcome mengukur dampak dari outcome penelitian individual kepada komunitas dan lingkungan di luar knowledge domain penelitian. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian yang harus berhenti setelah menghasilkan produce output, tidak menghasilkan manfaat yang lain bagi komunitas eksternal.
Dalam kenyataannya, banyak penelitian di Indonesia berhenti pada producing output, misalnya berhenti setelah menghasilkan laporan tanpa usaha melakukan diseminasi hasil penelitian.
External outcome perfomance indicator antara lain adalah:
1- Dampak research outcome kepada kebijakan pemerintah dalam sosial, politik, ekonomi dan aspek lingkungan.
2- Dampak research outcome kepada masyarakat sekitar/lingkungan.
1.2.5. Indikator Keberhasilan Riset Akademik
Indikator kinerja suatu penelitian akademik, yang penelitiannya dilakukan pada konteks lingkungan akademis, secara umum memiliki persamaan dengan penelitian orang lain. Perbedaan yang cukup mendasar memberikan bentuk penelitian akademis yang lebih umum. Sehubungan dengan indikator kinerja yang bersifat umum, penelitian-penelitian akademis harus memenuhi karakteristik aspek-aspek akademis, seperti pendidikan dan kepakaran ilmu.
Secara umum, kinerja dari suatu output penelitian akademik diukur hanya dengan suatu produced output, seperti jumlah artikel yang dipublikasikan di dalam jurnal terkemuka. Pada kenyataannya, seharusnya kinerja ini juga diukur dengan penggunaan consumed output oleh para peneliti lain dalam bentuk sitasi dan kualitas jurnal ilmiah dimana consumed output dinyatakan.
Indikator untuk kinerja penelitian akademik adalah:
1- jumlah buku yang dipublikasikan per staf pengajar
2- jumlah buku yang diedit dan dipublikasikan staf pengajar
3- jumlah bab dalam buku per staf pengajar
4- jumlah artikel direferensikan yang dipublikasi per staf pengajar
5- pekerjaan kreatif dan luaran sejenis lainnya per staf pengajar
6- pengembalian investasi
1.2.6. Usulan Indikator Kinerja Riset
Berdasarkan review indikator kinerja penelitian saat ini, terdapat platform umum untuk menguji keberhasilan dari usaha penelitian. Penetapan kinerja atau indikator keberhasilan penelitian harus mempertimbangkan adanya dua level penelitian, yaitu pada level penelitian individual dan level manajemen penelitian.
Pada level penelitian individual, indikator harus dapat mengukur kualitas penelitian secara internal. Hampir semua pengukuran bersifat kualitatif dan dapat dilakukan self-assessment. Indikator kinerja input dan indikator kinerja proses adalah dua indikator yang dapat memperlihatkan bagaimana suatu penelitian individual yang berhasil dapat diperoleh. Kedua indikator utama ini dapat diimplementasikan secara internal. Setiap peneliti individual dapat memelihara kulitas kemajuan penelitiannya berdasarkan pada pedoman yang telah ditentukan. Mengingat sebagian besar dari indikator menentukan aspek internal dari suatu program penelitian, peneliti harus mampu melakukan self assess untuk mengukur kemajuan penelitiannya sendiri.
Sebaliknya indikator kinerja output akan diukur dengan cara yang lebih bersifat kuantitatif dan dilaksanakan oleh pihak eksternal. Indikator kinerja outcome mengukur dampak penelitian secara internal dan eksternal. Menguji dampak internal suatu penelitian dapat dianggap suatu pekerjaan yang mudah dilaksanakan, sementara mengukur dampak penelitian pada lingkungan masyarakat secara eksternal jauh lebih sulit untuk dilaksanakan. Untuk yang pertama dapat ditentukan secara internal sedangkan yang terakhir harus melibatkan berbagai aspek yang lebih besar dan jauh lebih kompleks.
Pada level yang lebih tinggi indikator untuk mengukur keberhasilan suatu penelitian harus juga ditentukan. Penetapan indikator keberhasilan penelitian pada level manajemen meliputi seluruh indikator yang dapat mengukur keberhasilan institusi dan manajemen penelitian dalam proses promosi, pemeliharaan dan peningkatan kualitas penelitian individual. Sehingga indikator keberhasilan di sini harus dapat mengindikasikan keberhasilan seluruh penelitian individual secara mengglobal di bawah pengawasan atau manajemennya, demikian juga dengan dukungan dan pencapaian keberhasilan penelitian individual.
Pada tingkat universitas, indikator kinerja dapat dikembangkan berdasarkan pada pengukuran kinerja dari output penelitian akademik. Indikator ini harus digunakan untuk menilai bagaimana tingkat keberhasilan suatu lembaga penelitian universitas atau pusat penelitian, dalam mendapatkan manajemen penelitian yang baik. Pengukuran ini harus menunjukkan secara jelas nilai tambah suatu penelitian kepada komunitas akademika (internal dan eksternal) sebaik kepada masyarakat luas. Kinerja dari output akademik ditunjukkan dalam indikator kuantitatif sebagai berikut:
1- jumlah buku yang dipublikasikan per jumlah staf
2- jumlah buku yang diedit dan dipublikasikan per jumlah staf pengajar
3- jumlah chapter direferee dalam buku per staf akademik
4- jumlah artikel berjuri per staf akademik
5- jumlah publikasi per staf pengajar pada pertemuan ilmiah nasional maupun internasional
6- karya kreatif dan luaran sejenis lainnya per staf pengajar
7- pengembalian investasi
Dimana secara kualitatif, kinerja dari indikator akademik akan mengukur tingkat kualitas penelitian yang berada di bawah organisasi lembaga penelitian universitas.
1.2.7. Gambaran Kinerja Riset Nasional

Hingga saat ini diakui bahwa kinerja riset-riset nasional Indonesia, baik yang bersifat perorangan maupun kelompok dan kelembagaan, masih sangat rendah. Hal ini tentunya tercermin pula pada program riset nasional seperti RUT dan RUK. Untuk mengetahui kinerja riset-riset tersebut, maka dalam studi ini dilakukan kajian melalui pemantauan dan evaluasi manfaat serta dampak program RUT dan RUK. Diharapkan gambaran yang diperoleh dari studi dapat secara obyektif menggambarkan kondisi kinerja pengelola riset dalam program RUT dan RUK.
Sebagai bandingan, Thulstrup menyatakan bahwa riset-riset di banyak negara berkembang masih mengalami hambatan dan kinerjanya masih kurang memuaskan. Hal ini antara lain ditunjukkan dalam bentuk:
1• Riset di negara berkembang umumnya masih digunakan sebagai media pelatihan bagi peneliti, sehingga hasil yang diperolehnya pun menjadi tidak banyak berarti selain peningkatan kemampuan sumber daya manusia.
2• Keberhasilan pelaksanaan riset terapan sangat rendah, sementara riset-riset lain juga sering kali belum memuaskan hasilnya. Dengan hasil riset terapan yang rendah ini maka pemanfaatan langsung riset oleh masyarakat menjadi rendah pula.
3• Pengaruh riset terhadap pertumbuhan ekonomi negara masih sangat rendah. Hal ini menyebabkan sulitnya bagi pengambil keputusan untuk meningkatkan alokasi dana riset yang lebih besar, karena manfaat riset tersebut masih dipertanyakan.
4• Pemantauan terhadap riset lebih ditekankan (dipentingkan) terhadap input ketimbang hasil yang dicapai. Hal ini terlihat dari konsentrasi pematauan dan evaluasi riset yang lebih mengutamakan pada ketertiban administratif dan finansial daripada keberhasilan substansial.
5• Selanjutnya, dapat disimpulkan bahwa kegagalan proyek-proyek riset utama disebabkan karena pengabaian tujuan dan sasaran riset, serta ketidak-seimbangan antara pembiayaan proyek riset dengan kebijakan pelaksanaan.
Dari indikasi di atas lebih lanjut Thulstrup menyimpulkan bahwa kegagalan-kegagalan riset di negara-negara berkembang tersebut sering kali terjadi karena hal-hal berikut:
1• Peralatan yang kurang memadai dan/atau tidak berfungsi dengan baik
2• Dana untuk kegiatan operasi dan perawatan yang tidak memadai
3• Waktu peneliti yang tidak cukup terkonsentrasi pada satu topik penelitian
4• Teknisi kurang terlatih
5• Kurangnya kerjasama antar peneliti
6• Rendahnya pengawasan terhadap mutu dan efisiensi riset
7• Kurang memadainya insentif bagi peneliti dan sangat bergantung pada kebijakan nasional
2. INTEGRATED PERFORMANCE MEASUREMENT SYSTEM (IPMS)
Integrated Performance Measurement System, yang selanjutnya disebut IPMS merupakan
sistem baru pengukuran kinerja yang dibuat di Centre for Strategic Manufacturing, University of Strathclyde, Glasgow (Suwignjo, 2000), dengan tujuan mendeskripsikan dalam arti yang tepat bentuk dari integrasi, efektif dan efisien SPK, sehingga untuk mencapai tujuan tersebut maka dideskripsikan sebagai berikut:
1 Komponen pokok dari sistem pengukuran kineja.
2. Membuat garis arahan pengukuran kinerja terbaik yang sebaiknya digunakan.
Model IPMS membagi level bisnis suatu organisasi menjadi 4 level seperti Gambar 1, yaitu:
Business (Corporate – Bisnis Induk), Business Unit (Unit Bisnis), Business Process (Proses
Bisnis), dan Activity (Aktivitas Bisnis). Sehingga perancangan SPK dengan model IPMS harus
mengikuti tahapan-tahapan sebagai berikut: identifikasi stakeholder dan requirement, melakukan External Monitor (Benchmarking), menetapkan objectives bisnis, mendefinisikan measures/KPI, melakukan validasi KPI, dan spesifikasikan KPI.
2.1 Stakeholder Requirement
Pada tiap-tiap level bisnis (organisasi) harus diketahui siapa saja stakeholder-nya atau pihakpihak yang berkepentingan pada bisnis tersebut. Selanjutnya diidentifikasikan permintaan/ keinginan (requirement) mereka terhadap bisnis yang diistilahkan dengan Stakeholder Requirement. Stakeholder dapat meliputi; pemegang saham/pemilik, lingkungan sosial, pegawai/karyawan, pemerintah/instansi lain.
2.2 External Monitor
External monitor dilakukan untuk mengetahui posisi organisasi terhadap pesaing dan performansi/kinerja kelas dunia.
2.3 Objectives
Penyusunan tujuan (objectives) harus didasarkan pada keterlibatan dan prioritas perkembangan kebutuhan bersama dengan target dan skala waktu yang tepat. Menurut Suwignjo (2000) dengan menggunakan cause effect tool seperti RONA, ROI trees dapat memberikan keterangan bahwa tujuan diperoleh melalui analisa yang akurat. Tujuan seharusnya juga didasarkan pada pemikiran sejumlah masukan, yaitu; permintaan stakeholder, praktek dan performansi bisnis kelas dunia, competitif gaps dan rencana pesaing, tingkat performansi dimana organisasi mampu mencapainya dengan berbagai batasan yang ada disebut target realistis, tingkat performansi dimana organisasi memiliki kemampuan untuk mencapainya dengan menghilangkan berbagai batasan yang ada yang dikatakan sebagai target potensial (Suwignjo, 2000).
2.5 Performance Measures
Suatu bisnis (organisasi) seharusnya memiliki pengukuran performansi yang benar-benar
menunjukkan tingkat performansi yang dicapai, serta mampu menunjukkan seberapa berhasil
pencapaian tujuan pada tiap level. Pengukuran performansi untuk setiap bisnis memiliki perbedaan, oleh sebab itu diperlukan kejelian dan pemahaman yang baik dari bisnis agar diperoleh pengukuran performansi yang benar. Untuk memperoleh ukuran performansi atau KPI yang benar perlu dilakukan validasi terhadap KPI yang dibuat. Kemudian apabila KPI tersebut sudah valid, maka KPI dispesifikasikan untuk memudahkan dalam proses pengukurannya. Proses spesifikasi KPI ini dilakukan untuk mengetahui deskripsi yang jelas tentang KPI, tujuan, keterkaitan dengan objectives, target dan ambang batas, formula/cara mengukur KPI, frekuensi pengukuran, frekuensi review, siapa yang mengukur, dan apa yang mereka kerjakan.
3. PERANCANGAN SPK
Proses perancangan SPK dilaksanakan berdasarkan kerangka kerja IPMS dan pendekatan
sistem organisasi Jurusan Teknik Mesin Universitas Mataram dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Stakeholder requirement.
2. External Monitoring.
3. Menentukan tujuan-tujuan (objectives) Jurusan.
4. Menentukan ukuran-ukuran kinerja (measures) yang biasa disebut KPI.
5. Melakukan validasi KPI.
6. Spesifikasi KPI.
7. Pembobotan KPI.
8. Scoring system SPK.
3.1 Identifikasi Stakeholder Requirement
Sebelum mengidentifikasi stakeholder requirement, pertama-tama dilakukan pembagian level bisnis/organisasi menjadi empat level bisnis sesuai dengan kerangka kerja IPMS dan pendekatan sistim organisasi jurusan seperti ditunjukkan pada Gambar 1 dan 2. Berdasarkan pendekatan sistem dan pembagian level organisasi dapat diketahui stakeholder Jurusan adalah pihak universitas/fakultas, manajemen jurusan, mahasiswa, dosen, karyawan, industri, dan masyarakat. Dari masing-masing stakeholders tersebut kemudian diidentifikas requirement-nya. Setelah semua requirement (keinginan) dari masing-masing stakeholder ditulis, kemudian dilakukan seleksi untuk melihat adanya kesamaan requirement dari masing-masing stakeholder. Berdasarkan hasil seleksi maka dapat diidentifikasi 15 requirement
.Tabel 1. Hasil Identifikasi Stakeholder Requirement

Stakeholder Requirement

1. Pelaksanaan pendidikan di Jurusan berjalan dengan baik.
2. Keuangan Jurusan dikelola dengan baik dan bertanggung jawab.
3. Lulusan yang dihasilkan Jurusan relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
4. Terealisasinya program-program Jurusan.
5. Meningkatnya minat baca dan belajar mahasiswa.
6. Pelaksanaan perkuliahan sesuai dengan silabus, GBPP dan SAP.
7. Meningkatnya kualitas penelitian dosen dan mahasiswa.
8. Kesejahteraan dan reward SDM Jurusan diperhatikan.
9. Kelancaran proses pengurusan kenaikan pangkat.
10. Ketersediaan alat bantu proses belajar mengajar sebelum perkuliahan dimulai.
11. Cepat lulus dengan indek prestasi (IP) tinggi dan cepat kerja.
12. Tersedianya modul/diktat mata kuliah dan petunjuk praktikum.
13. Mudah mendapatkan tempat kerja praktek (KP).
14. Mendapatkan tenaga kerja yang berpengalaman dan mampu berkomunikasi dalam bahasa
inggris.
15. Lulusan yang peduli terhadap permasalahan di masyarakat.


3.2 External Monitoring
External monitor/bencmarking dilakukan dengan cara riset in-house terhadap beberapa pustaka seperti; Rencana Strategis Universitas Mataram 1997-2006 (Universitas Mataram, 1998), Penyusunan dan Pengembangan Kurikulum Program Studi Teknik Mesin Universitas Mataram (Yudhyadi, dkk., 1999), Proposal Semi-Que IV (Jurusan Teknik Mesin, 2001), Peningkatan Akademik Atmosfir di Jurusan Teknik Mesin FTI-ITS (Triyogi, 2002), dan Laporan Tahunan Proyek DUE-Like IV (Universitas Mataram, 2002). Hasil studi menunjukkan bahwa kemampuan Jurusan Teknik Mesin dalam memenuhi keinginan stakeholder masih dibawah rata-rata.
3.3 Penetapan Objective
Setelah stakeholder requirement ditentukan, kemudian ditetapkan objectives-nya. Dari hasil
penelitian ini dapat ditentukan 27 objectives sebagai upaya yang akan dilakukan Jurusan untuk memenuhi keinginan (requirement) dari stakeholder. Kedua puluh tujuh objectives yang dimaksud dapat dilihat dalam Tabel 2.

3.4 Penetapan KPI
KPI ditetapkan sebagai ukuran untuk mengetahui tingkat pencapaian masing-masing objectives
3.5 Validasi KPI
Validasi KPI dilakukan setelah KPI yang teridentifikasi disusun dalam bentuk hirarki SPK dengan level teratas kinerja Jurusan Teknik Mesin, level dibawahnya adalah kriteria kinerja Jurusan, dan level paling bawah adalah KPI seperti Gambar 3. Proses validasi ini dilakukan dengan cara mengembalikan hirarki SPK tersebut kepada pengambil keputusan di Jurusan untuk memberikan penilaian apakah KPI dan hirarki SPK yang ada sudah sesuai atau tidak dalam arti valid atau perlu perbaikan. Berdasarkan proses validasi yang dilakukan ternyata KPI yang tersusun dinyatakan valid berdasarkan pendekatan sistem organisasi jurusan.
3.6 Spesifikasi KPI
Proses spesifikasi KPI ini dilakukan untuk mengetahui deskripsi yang jelas tentang KPI, tujuan, keterkaitan dengan objectives, target dan ambang batas, formula/cara mengukur KPI, frekuensi pengukuran, frekuensi review, siapa yang mengukur, dan apa yang mereka kerjakan, seperti contoh dalam Tabel 3.
Tabel 3. Spesifikasi KPI
KPI
Diskripsi Rasio dosen berpendidikan lanjut.
Tujuan Untuk memastikan kualitas pendidikan dosen selalu meningkat dari
waktu ke waktu, sehingga pendidikan di jurusan dapat berjalan dengan baik.
Terkait dengan Objectives-“Kualitas dosen dan karyawan ditingkatkan”
Target dan ambang batas Seratus persen (100%) dan minimum 85% telah berpendidikan
lanjut (terjadi peningkatan dosen berpendidikan lanjut 15%).
Formula/cara mengukur {[Jumlah dosen S3) / Total dosen] x 100%}.
Frekuensi pengukuran Setahun sekali.
Frekuensi review Setahun sekali.
Siapa yang mengukur Tim evaluasi dan pengendalian kinerja jurusan.
Sumber data Data kompetensi dosen di jurusan.
Siapa yang punya KPI Universitas, Fakultas, Jurusan, Dosen.

3.7 Pembobotan KPI
Setelah terbentuk indikator-indikator kinerja(KPI) Jurusan Teknik Mesin Universitas Mataram maka langkah berikutnya adalah mencari bobot dari masing-masing-masing KPI berdasarkan hirarki kinerja yang terbentuk dengan menggunakan pendekatan Analitic Hierarchy Process, AHP (Saaty, 1991). Alat yang digunakan untuk mengetahui bobot adalah berupa kuisioner. Kuesioner tersebut bersifat tertutup yang berisikan kriteria-kriteria dan KPI yang diberikan pada satu orang ahli, yaitu Ketua Jurusan Teknik Mesin untuk memberikan bobot dengan penilaian berupa perbandingan berpasangan (pairwise). Data yang diperoleh dari kuisioner kemudian diolah dengan menggunakan program komputer berupa Software Expert Choise Version 9.0 (1995). Hasil pembobotan terhadap kriteria kinerja Jurusan Teknik Mesin dapat dilihat dalam Tabel 4 di bawah ini. Dari sembilan kriteria yang ada ternyata kriteria Kurikulum memiliki bobot terbesar yaitu 0.189. Ini berarti bahwa kriteria kurikulum harus mendapatkan perhatian yang besar dari Jurusan untuk dapat meningkatkan kinerjanya. Sedangkan bobot terkecil adalah kriteria external party yaitu 0.049, artinya bahwa kriteria external party belum begitu mendesak untuk ditindaklanjuti dalam rangka meningkatkan kinerja Jurusan.

Tabel 4. Bobot Kriteria Kinerja Jurusan Teknik Mesin.
Kriteria Bobot
Kurikulum 0,111
Mahasiswa 0,111
Finansial 0,111
Sumber Daya Manusia (SDM) 0,111
Administrasi Akademik 0,111
Proses Pembelajaran 0,111
Alumni 0,111
Evaluasi dan Pengendalian 0,111
External Party 0,111
Kesimpulan Konsisten
Sumber: Hasil Pembobotan Expert Choice.

3.8 Scoring System SPK
Pencapaian Kinerja Jurusan Teknik Mesin sangat bergantung pada hasil (score) yang dicapai oleh masing-masing indikator (KPI). Untuk mengetahui nilai pencapaian terhadap target dari masing-masing KPI perlu dibuatkan scoring system seperti contoh Gambar 4. Scoring system ini harus dibuat bersama-sama dengan traffic light system untuk memberikan rambu-rambu atau tanda, apakah nilai score dari KPI tersebut perlu perbaikan (improvement) atau tidak. Dalam rancangan ini traffic light system dibuat menggunakan tiga warna yaitu; warna merah, kuning, dan
hijau. Warna merah menandakan score dari KPI tidak mencapai target atau di bawah target dengan score 0-55. Warna kuning memberikan indikasi bahwa score yang dicapai perlu ditingkatkan dengan memberikan batasan 56 – 79. Terakhir warna hijau menandakan bahwa score
yang didapat sesuai dengan target yaitu; score 80 - 100.

Senin, 29 Desember 2008

isi SKB 4 mentri

Belum tuntas kisruh dan ketidakberpihakan pemerintah terhadap buruh dalam masalah outsourcing dan karyawan kontrak kini pemerintah kembali membuat kebijakan yang dinilai banyak pihak terutama kaum buruh sangat tidak berpihak dan merugikan pekerja.

Berikut ini isi dari SKB 4 menteri (yang kembali merugikan buruh) itu :

Daftar Aturan Baru Upah Buruh
Suhendra - detikFinance

Jakarta - Pemerintah resmi menerbitkan aturan baru mengenai upah minimum buruh. Penetapan upah tidak lagi melibatkan pemerintah tapi negosiasi langsung antara pengusaha dan buruh (bipartit).

Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 menetri itu ditandatangani oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Dalam Negeri Mardiyanto dan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.

Putusan 4 SKB itu berdasarkan aturan PER.16/MEN/X/2008, 49/2008, 922.1/M-IND/10/2008 dan 39/M-DAG/PER/10/2008 per tanggal 22 Oktober 2008. Nama SKB itu adalah ‘Pemeliharaan momentum pertumbuhan ekonomi nasional dalam mengantisipasi perkembangan perekonomian global‘.Berikut poin-poin dalam SKB 4 menteri itu yang akan menentukan upah buruh:

Pasal 1
Dalam menghadapi dampak krisis perekonomian global, pemerintah melakukan berbagai upaya agar ketenangan berusaha dan bekerja tidak terganggu.

Pasal 2
Upaya sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 adalah sebagai berikut:

a. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi melakukan:

Konsolidasi unsur pekerja/buruh dan pengusaha melalui forum LKS tripartit nasional dan daerah serta dewan pengupahan nasional dan daerah agar merumuskan rekomendasi penetapan upah minimum yang mendukung kelangsungan berusaha dan ketenangan bekerja dengan senantiasa memperhatikan kemampuan dunia usaha khususnya usaha padat karya dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Upaya mendorong komunikasi bipartit yang efektif antar unsur pekerja/buruh dan pengusaha di perusahaan.
Upaya meningkatkan efektivitas mediasi penyelesaian perselisihan hubungan industrial secara cepat dan berkeadilan serta pencegahan terjadinya pemutusan hubungan kerja.
b. Menteri Dalam Negeri melakukan:

Upaya agar gubernur dan bupati/walikota dalam menetapkan segala kebijakan ketenagakerjaan di wilayahnya mendukung kelangsungan berusaha dan ketenangan bekerja, termasuk meningkatkan komunikasi yang efektif dalam lembaga kerjasama tripartit daerah, dan dewan pengupahan daerah.
Upaya agar gubernur dalam menetapkan upah minimum dan segala kebijakan ketenagakerjaan di wilayahnya mendukung kelangsungan berusaha dan ketenagakerjaan dengan senantiasa memperhatikan kemampuan dunia usaha khususnya usaha padat karya dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Upaya gubernur dan bupati/walikota mengoptimalkan peran, fungsi dan pelaksanaan tugas pejabat fungsional ketenagakerjaan dan lembaga-lembaga ketenagakerjaan lainnya.
c. Menteri Perindustrian melakukan:

Mendorong efisiensi proses produksi, optimalisasi kapasitas produksi dan daya saing produk industri.
Menyusun kebijakan penggunaan produksi dalam negeri dan melaksanakan monitoring pelaksanaannya.
d. Menteri Perdagangan melakukan:

Upaya peningkatan pencegahan dan penangkalan penyelundupan barang-barang dari luar negeri.
Memperkuat pasar dalam negeri dan promosi penggunaan produk dalam negeri.
Mendorong ekspor hasil industri padat karya.
Pasal 3
Gubernur dalam menetapkan upah minimum mengupayakan agar tidak melebihi pertumbuhan ekonomi nasional.

Pasal 4
Tindak lanjut peraturan bersama ini dilakukan oleh masing-masing menteri.

Pasal 5
Peraturan bersama ini mulai ditetapkan berlaku sejak ditetapkan.
(hen/ir)

(sumber : detikfinance)


Bila sampean perhatikan kalimat yang saya block merah dapat disimpulkan bahwa :

Pemerintah tidak lagi ikut campur tangan dalam penentuan upah minimum propinsi.Semuanya diserahkan kepada pengusaha dan pekerja lewat LKS tripartit.
Gubernur ‘diminta’ melihat kepentingan keberlangsungan usaha (para pengusaha) dalam menetapkan upah minimum.
Dalam menentukan upah minimum Gubernur ‘diminta’ untuk TIDAK BOLEH melebihi pertumbuhan ekonomi nasional which is hanya sekitar 6 persen untuk tahun 2009 mendatang.
Nah,kalau sudah begini makin ‘diperas’lah kami-kami ini kaum buruh.Memang kalau dilihat secara sekilas pemerintah mengeluarkan SKB ini demi tujuan yang (kelihatan) mulia - menyelamatkan dunia usaha dalam menghadapi krisis global.Akan tetapi dengan alasan demi menyelamatkan dunia usaha lagi-lagi buruhlah yang harus jadi korban.

Sekali lagi pemerintah terkesan lebih senang ‘menyelamatkan’ para pengusaha daripada rakyat kecil.”Yeialah mereka kan ngasih ‘upeti’ ke kita nah lu buruh ngasih apa ke kita?”mungkin itulah yang ada di benak bapak-bapak dan ibu-ibu menteri kita di atas sana (semoga saja ini salah).Lagian,Sudah jadi rahasia umum bahwa LKS tripartit atau forum bipartit pada umumnya tidak berjalan dengan baik.

Kalau memang urusan upah minimum ini diserahkan kepada pengusaha dan masih ditambahi lagi dengan himbauan agar tidak melebihi pertumbuhan ekonomi yang hanya 6 persen itu maka semakin tidak sejahteralah buruh-buruh di seluruh Indonesia ini.Tujuan pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan pun hanya akan menjadi angan-angan di langit yang tinggi.

Satu lagi,kalau memang kenaikan upah minimum tidak boleh lebih dari 6 persen lalu apakah hal ini sudah mencapai tingkat pendapatan untuk Kebutuhan Hidup Layak (KHL)?saya rasa tidak.Padahal dalam Permenakertrans No.17 tahun 2005 disebutkan bahwa penetapan upah minimum sesuai Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak (KHL).

Nah bingung kan?tahun 2005 Menakertrans ‘bilang’ bahwa upah minimum harus sesuai biaya KHL.Lah,sekarang menakertrans dan 3 menteri lainnya ‘bilang’ upah minimum tahun depan jangan sampai melebihi pertumbuhan ekonomi yang 6 persen itu.Apa itu tidak ‘menabrak’ peraturan sendiri namanya?

Sebagai contoh,upah minimum Jakarta tahun ini sebesar Rp 972.604, 80 sedangkan KHL DKI Jakarta tahun ini sudah mencapai Rp 1.300.000,00.Kalau tahun depan kenaikan upah minimum hanya 6 persen berarti hanya menjadi Rp 1.039.610,00 dong?bahkan masih jauh dari KHL tahun ini.

Oh buruh Indonesia,kasihan sekali nasibmu,outsorcing,sistem kontrak,upah yang minim…..lengkaplah penderitaanmu.

‘SALAM PERJUANGAN UNTUK BURUH SELURUH INDONESIA.’

Minggu, 16 November 2008

Pengelasan

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas Teknik Tata Cara dan Pengendalian Kerja dengan judul “Pengukuran Waktu Mengelas dengan Menggunakan Pengukuran Kerja Teknik Tidak Langsung ” di bengkel Las Mitra Jaya.
Penyusunan tugas ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam mengikuti program pembelajaran perkuliahan pada Jurusan Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Gresik.
Disadari sepenuhnya bahwa selesainya tugas ini bukan semata hasil kerja keras penyusun, tetapi juga berkat bimbingan Eko Budi Leksono,ST.MT selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan petunjuk dalam penyusunan tugas, untuk itu menyampaikan banyak terima kasih.
Penyusun menyadari bahwa penyusunan tugas ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna, untuk itu penyusun menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan tugas ini.
Semoga tugas ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak dan atas perhatiannya mengucapkan terima kasih.





BAB I
Pendahuluan

Latar Belakang
Perekonomian Indonesia yang mulai membaik saat ini memberikan peluang dan kesempatan untuk dapat berkembang dan memperbaiki kondidi usaha kecil pasda pengelasan las listrik, las karbit dan asitilin yang mengalami sedikit guncangan sebagai dari akibat krisis moneter itu yang berkepanjangan. Salah satu dampak krisis moneter itu adalah kenaikan harga bahan bakar gas O2 yang tek terkendali, sehingga menyebabkan usaha kecil yang menggunakan bahan bakar gas O2 berpengaruh langsung pada biaya produksi. Persaingan yang mewarnai perkembangan dunia usaha dampak adanya pasar global yang memaksa usaha kecil untuk dapat beroperasi secara efektif dan efisien.
Uasaha kecil pada Las Listrik membutuhkan tenaga listrik yang cukup besar untuk dapat beroperasi secara efisien, bekitu pula dengan las Karbit yang bercampur dengan Asitilin O2 , Las Gas/Karbit adalah proses pengelasan yang mengunakan gas, prosesnya adalah membakar bahan bakar gas dengan O2 sehingga menimbulkan nyala api dengan suhu yang dapat mencairkan logam induk dan logam pengisi. Sebagai bahan bakar dapat digunakan gas-gas asetilen, propana atau hidrogen. Ketiga bahan bakar ini yang paling banyak digunakan adalah gas asetilen, sehingga las gas pada umumnya diartikan sebagai las oksi-asetelin. Karena tidak mengunakan tenaga listrik, las oksi-asetelin banyak dipakai di lapangan walaupun pemakaiannya tidak sebanyak las busur elektroda terbungkus.
Karbit atau Kalsium karbida adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CaC2. Karbit digunakan dalam proses las karbit dan juga dapat mempercepat pematangan buah.
Persamaan reaksi Kalsium Karbida dengan air adalah
CaC2 + 2 H2O → C2H2 + Ca(OH)2
Karena itu 1 gram CaC2 menghasilkan 349ml asetilen. Pada proses las karbit, asetilen yang dihasilkan kemudian dibakar untuk menghasilkan panas yang diperlukan dalam pengelasan.




BAB II
Pembahasan

1.1 Pengkutuban Elektroda
1. Pengkutuban Langsung
Pada pengkutuban langsung ini, kabel elektroda dipasang pada terminal negative (-) dan kabel massa pada terminal positif (+). Pengkutuban langsung sering disebutserkuit las listrik dengan
elektroda negative (DC ¯ ).


2.Pengkutuban Terbalik
Untuk pengkutuban terbalik, kabel elektroda dipasang pada terminal positif dan kabel massa dipasang pada terminal negative. Pengkutuban terbalik sering disebut sirkuit las listrik elektroda positif (DC+)

3.Pengaruh Pengkutuban Pada Hasil Las
Pemilihan jenis arus maupun pengkutuban pada pengelasan tergantung kepada :
a. Jenis bahan dasar yang akan dilas
b. Jenis elektroda yang dipergunakan


Pengaruh pengkutuban pada hasil las adalah pada penembusan lasnya. Pengkutuban langsung akan menghasilkan penembusan yang dangkal, pengkutuban terbalik akan menghasilkan penembusan yang dalam. Pada arus bolak-balik (AC), penembusan yang menghasilkan dapat dangkal dan dapat dalam, atau antara keduanya.

1.2 PERALATAN LAS LISTRIK
Peralatan las listrik ini terdiri dari :
a. Pesawat las,
b. Alat-alat bantu las,
c. Perlengkapan keselamatan kerja,
d. Elektroda.

A. Pesawat Las
Jika ditinjau dari arus yang ke luar, pesawat las dapat digolongkan menjadi :
1) Pesawat las arus bolak-balik (AC),
2) Pesawat las arus searah (DC),
3) Pesawat las arus bolak-balik dan searah (AC-DC), yang merupakan gabungan dari pesawat AC dan DC.
1) Pesawat Las Arus bBolak-Balik (AC)
Pesawat las jenis ini terdiri dari transformator yang dihubungkan dengan jala PLN atau dengan pembangkit listrik, motor disel, atau motor bensin. Kapasitas trafo biasanya 200 sampai 500 ampere. Sedangkan voltase (tegangan) yang ke luar dari pesawat trafo ini antara 36 sampai 70 volt, dan ini bervariasi menurut pabrik yang mengeluarkan pesawat las trafo ini. Gambar memperlihatkan salah satu jenis pesawat las transformator AC.
2) Pesawat Las Arus Searah (DC)
Pesawat ini dapat berupa pesawat tranformator rectifier, pembangkit listrik motor disel atau motor bensin, maupun pesawat pembangkit listrik yang digerakan oleh motor listrik digerakkan oleh motor listrik (motor generator).



3) Pesawat Las AC-DC
Pesawat las ini merupakan gabungan dari pesawat las arus bolak-balik dan arus searah. Dengan pesawat ini akn lebih banyak kemungkinan pemakainya karena arus yang keluar dapat searah maupun bolak-balik (AC-DC). Pesawat las jenis ini mialnya tranformator rectifier maupun pembangkit listrik motor disel.

B. Alat-alat bantu Las
Pada pengelasan terdapat alat bantu yang terdiri dari :
1) Kabel las,
2) Pemegang elektroda,
3) Palu las,
4) Sikat kawat,
5) Klem masa,
6) Penjepit.
1. Kabel Las
Kabel las biasanya dibuat dari tembaga yang dipilin dan dibungkus dengan karet isolasi. Yang disebut kabel las ada tiga macam, yaitu :
a. Kabel elektroda , yaitu kabel yang menghubungkan pesawat las dengan elektroda.
b. Kabel masa, yaitu yang menghubungkan pesawat las dengan benda kerja.
c. Kabel tenaga, yaitu kabel yang menghubungkan sumber tenaga atau jaringan lisrtik dengan pesawat las.
Tabel ukuran kabel las (mm²)

2. Pemegang Elektroda
Ujung yang berselaput dari elektroda dijepit dengan pemegang elektroda. Ini terdiri dari mulut penjepit dan pemegang yang dibungkus oleh bahan penyekat (biasanya dari embonit).
3. Palu Las
Palu ini digunakan untuk melepaskan dan mngeluarkan terak las pada jalur las dengan jalan memukulkan atau menggoreskan pada daerah las. Gunakanlah kaca mata terng pada waktu poembersihan terak, sebeb dapat memercikan pada mata.
4. Sikat Kawat
Sikat kawat digunakan untuk :
a. Membersihkan benda kerja yang akan dilas,
b. Membersihkan terak las yang sudah dilepas dari jalur las oleh pukulan palu las
5. Klem massa
Ini adalah alat untuk menghubungkan kabel masa ke benda kerja. Terbuat dari bahan yang menghantar dengan baik (tembaga). Klem masa dilengkapi dengan pegas yang kuat, yang dapat menjepit benda kerja dengan baik. Tempat yang dijepit harus bersih dari kotoran (karet, cat, minyak dan sebagainya).
6. Penjepit
Ini digubakan untuk memegang atau memindahkan benda kerja yang masih panas sehabis pengelaan.

C. Perlengkapan keselamatan Kerja
Pada perlengkapan keselamatan kerja terdiri dari :
1. Helm las (topeng las),
2. Tarung tangan
3. Baju las (apron)
4. Sepatu las
5. Kamar las

1. Helem Las (Topeng Las)
Gunanya untuk melindungi kulit muka dan mata dari sinar las (ultra violet dan infra merah).
Sinar las yang terang itu tidak boleh dilihat dengan mata langsung sampai jarak 15 meter.Kaca dari helem las atau topeng las adalah khusus yang dapat mengurangi sinar las tersebut. Dan melindungi kaca khusus tersebut dari percikan las, dipakailah kaca kaca bening pada bagian luarnya.
2. Sarung tangan
Dibuat dari kulit atau asbes lunak. Untuk memudahkan memegang pemegang elektroda. Pada waktu mengelas, sarung tangan ini selalu harus dipakai.
3. Baju Las (Apron)
Dibuat dari kulit atau asbes. Baju las yang lengkap dapat melindungi badan dan sebagaian kaki. Untuk pengelasan posisi di atas kepala harus memakai baju las yang lengkap. Sedangkan pengelasan lainya cukup menggunakan apron.
4. Sepatu Las
Berguna untuk melindungi kaki dari semburan bunga api. Jika tidak ada sepatu las, pakailah sepatu biasa yang rapat, jangan sampai mudah kemasukan percikan bunga api.
5. Kamar Las
Kamar las dibuat dari bahan tahan api. Kamar las penting, yaitu agar orang yang ada di sekitar tidak terganggu oleh bahaya las. Untuk mengeluarkan gas, sebaiknya kamar las dilengkapi dengan sistem ventilasi. Kamaar las dilengkapi dengan meja las yang bebas dari bahaya kebakaran. Di sekitar kamar las ditempatkan alat pemadam kebakaran dan pasir.
D. Elektroda
Elektroda yang dipergunakan pad alas busur mempunyai perbedaan komposisi selaput maupun kawat inti. Diantaranya adalah elektroda berselaput . Pada elektroda ini pengelasan fluksi pada kawat inti dapat dengan cara destruksi, semprot atau celup. Ukuran standar diameter kawat inti dari 1,5 sampai 7 mm dengan panjang antara 350 sampai 450 mm.


1. Jenis – jenis Selaput Fluksi Elektroda
Bahan untuk selaput fluksi elektroda tergantung pada kegunaanya, yaitu antara lain selulosa, kalium karbonat, tintanikum dioksida, kaolin, kalium oksida mangan, oksida besi, serbuk besi, besi silicon, besi mangan dan sebagainya, dengan persentase yang berbeda-beda untuk tiap jenis elektroda.
2. Tebal selaput
Tergantung dari jenisnya, tebal selaput elektroda antara 10% sampai 50% dari diameter elektroda. Pada waktu pengelasan selaput elektroda ini nakan ikut mencair dan menghasilkan gas CO2 yang melindungi cairan las, busur listrik, dan sebagian benda kerja terhadap udara luar. Udara luar yang mengandunng O2 dan N akan dapat mempengaruhi sifat mekanik dari logam las. Cairan selaput yang disebut terak akan tereapung dadn membeku melapisi permukaan las yang masih panas.
1.3 Memilih Besar Arus Listrik
Besarnya arus listrik untuk pengelasan tergantung pada ukuran diameter dan macam-macam elektroda las.
Tabel Besar arus dalam ampere dan diameter (mm )

Keterangan :
a. E menyatakan elektroda
b. Dua angka setelah E (misalnya 60 atau 70) menyatakan kekuatan tarik defosit las dalam ribuan dengan 1b/inchi²
c. Angka ketiga setelah E menyatakan posisi pengelasan, yaitu :
- Angka (1) untuk pengelasan segala posisi,
- Angka (2) untuk pengelasan posisi datar dan bawah tangan.
d. Angka ke empat setelah E menyatakan jenis selaput dan jenis arus yang cocok dipakai untuk pengelasan

Dasar- dasar Las Gas
Las gas, yang dilapangann lebih dikenal dengan istilah las karbit, sebenarnya adalah pengelasan yang dilaksanakan dengan pencampuran 2 jenis gas sebagai pembentuk nyala api dan sebagai sumber panas. Dalam proses las gas ini, gas yang digunakan adalah campuran dari gasa Oksigen (O2) dan gas lain sebagai gas bahan bakar (fuel gas). Gas bahan bakar yang paling popular dan paling banyak digunakan dibengkel-bengkel adalah gas Aetilen ( dari kata “acetylene”, dan memiliki rumus kimia C2H2 ). Gas ini nmemiliki beberapa kelebihan dibandingkan gas bahan bakar lain. Kelebihan yang dimiliki gas Asetilen antara lain menghasilkan temperature nyala api lebih tinggi dari gas bahan bakar lainya, baik bila dicampur dengan udara ataupun Oksigen.

gas-gas lain yang juga berperan adalah gas propane (LPG), methane dan hydrogen. Karena temperature nyala api yang dihasilkan lebih rendah dari gas asitilen maka ketiga jenis gas ini jarang dipakai sebagai gas pencampur. Seperti disebut diatas, gas Asetilen merupakan jenis gas yang paling banyak digunakan sebagi bpencampuran dengan gas Oksigen. Jika gas Asetilen digunakan sebagi gas pencampur maka seringkali proses pengelasan disebut dengan las karbit. Gas Asetilen ini sebenarnya dihasilkan dari reaksi batu Kalsium KARBIDA (orang-orang menyebut karbit). Dengan air. Jadi jika Kalsium Karbida ini disiram atau dicelupkan ke dalam air maka akan terbentuk gas Asetilen. Jadi penyebutan nama las karbit hanya untuk mencirikan bahwa gas yang digunakan salah satunya adalah gas Asetilen.
Selain dikenal dengan nama las karbit, kadang-kadang masyarakat umum menyebut kan juga dengan nama lain yaitu las MDQ. Penyebutan nama MDQ ini sesungguhnya mengacu pada satu merk batu karbit. Jadi nama las karbit atau las asetilen atau las MDQ sebenarnya adalah satu nama proses las yan sama. Untuk dapat melakukan pengelasan dengan car alas gas, diperlukan peralatan seperti tabung gas Oksigen dan tabung gas Asetilen, katup tabung, regulator (pengatur tekana gas), selang gas dan torch (brander). Kedua gas Oksigen dan Asetilen keluar dari masing-masing tabung dengan tekanna tertentu, mengalir menuju torch melalui regulator dan selang gas. Setelah sampai di torch kedua gas tercampur dan akhirnya keluar dari ujung nosel torch. Dengan bantuan pematik api, campuran gas yang keluar dari ujung nosel membentuk nyala api denagn intensitas tertentu

1.4 Peralatan dalam Proses Las Gas
Proses las gas (dibuku ini akan sering disebutkan las gas untuk mencirikan bahwa las yang dimaksud adalah las yang melibatkann campuran gas Oksigen dan gas bahan bakar) umumnya dipakai secar manual yaitu dikerjakan oleh tangan juru las. Pengaturan panas dan pemberian kawat las dilakukan oleh kombinasi kedua tangan juru las. Oleh karena itu, kualitas sambungan nantinya akan diperngaruhi oleh ketrampilan dan keahlian si juru las.
Sebenarnya suadah ada pengembangan dari proses las gas ini menjadi semi-otomatis atau “dimensikan”. Tentu saja hal itu dilaarbelakangi oleh keinginan untuk mendapatkan kualitas ambungan yang lebih baik. Dengan system yang sudah otomatis maka pengaturan panas dan pemberian kawat las akan lebih baik lagi. Kebanyakan otomatis system diterapkan apada operasi-operai pemotongan pelat logam dimana pada sitem itu kecepatan pemotongn dapat diatur.
Proses las gas dapat dilaksanakan dengan pemberian kawat las (atau istilah logam pengisi) atau tidak sama sekali. Satu syarat dimana diperlukan logam pengisi atau tidak adalah dilihat dari ketebalan pelat yang akan di las. Jika pelat itu tipis maka untuk menyambungnya dapat dilakukan tanpa memberikan logam pengisi, sedangkan untuk pelat-pelat tebal diperlukan logam pengisi untuk menjamin sambungan yang optimal. Jika pada pelat tipis dipaksakan harus diberi logam pengisi maka hal itu mungkin saja dilakukan. Akan tetapi pada daerah sambungan akan nampak tonjolan logam las yang terlihat kurang baik. Nyala api dari hasil reaksi gas Oksigen dan gas bahan bakar tidak hanya dimanfaatkan untuk keperluan mengelas saja. Lebih dari itu, nyala api dapat dimanfaatkan untuk keperluan lainnya, seperti :
1. Operasi branzing ( flame brazing )
Yang dimaksud dengan branzing disini adalah proses penyambunngan tanpa mencairkan logam induk yang disambung, hanya logam pengisi saja. Misalnya saja proses penyambungan pelat baja yang menggunakan kawat las dari kuningan. Ingat bahwa titik cair Baja ( ± 1550 °C) lebih tinggi dari kuningan ( sekitar 1080°C). dengan perbedaan titik car itu, proses branzing, akan lebih mudah dilaksanakan daripada proses pengelasan.
2. Operasi pemotongan logam ( flame cutting )
Kasus pemotongan logam sebenarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Proses penggergajian (sewing) dan menggunting (shearing) merupakan contoh dari proses pemotongan logam dan lembaran logam

Proses menggunting hanya cocok diterapkan pada lembaran logam yang ketebalannya tipis. Proses penggergajian dapat diterapkan pada pelat yang lebih tebal tetapi memerlukan waktu pemotongan yang lebih lama. Untuk dapat memotong pelat tebal denngan waktu lebih singkat dari cara gergaji maka digunakan las gas ini denngan peralatan khusus misalnya mengganti torch nya ( dibengkel-bengkel menyebutnya brender ). Pemotongan pelat logam dengan nyala api ini dilakukan dengan memberikan suplai gas Oksigen berlebih. Pemberian gas Oksigen lebih, dapat diatur pada torch yang memang dibuat untuk keperluan memotong.
3. Operasi perluasan / pencukilan (flame gauging)
Operasi perluasan dan pencukilan ini biasanya diterapkan pada produk/komponen logam yang terdapat cacat/retak permukaannya. Retak/cacat tadi sebelum ditambal kembali dengan pengelasan, terlebih dahulu dicukil atau diperluas untuk tujuan menghilangkan retak itu. Setelah retak dihilangkan barulah kemudian alur hasil pencungkilan tadi diisi kembali dengan logam las.


4.Operasi pelurusan (flame straightening)
Operasi pelurusan dilaksanakan dengan memberikan panas pada komponen dengan bentuk pola pemanasan tertentu. Ilustrasi dibawah ini menunjukkan prinsip dasar pemuaian dan pengkerutan pada suatu logam batang.

Batang lurus dipanaskan dengan pola pemanasan segitiga Logam cenderung memuai pada saat dipanaskan. Daerah pemanasan tersebut menghasilkan pemuaian yang besar. Logam mengkerut pasa saat didinginkan. Daerah pemanasan terbesar menghasilkan pengkerutan yang besar pula.
Prinsip Pemuaian dan Pengkerutan Logam Las Gas Asetilen
A. Peralatan
Untuk dapat mengelas atau memotong ataupun fungsi lainya dari proses las gas maka diperlukan peralatan yang dapat menunjang fungsi-fungsi itu. Secara umum, peralatan yang digunakan dalam gas iniadalah :
1. Tabung gas Oksigen dan tabung gas bahan bakar,
2. Katup silinder/tabung,
3. Regulator,
4. Selang gas,
5. Torch,
6. Peralatan pengaman
1. Tabung Gas
Tabung gas berfungsi untuk menampung gas atau gas cair dalam kondisi bertekanan. Umumnya tabung gas dibuat dari Baja, tetapi sekarang ini sudah banyak tabung-tabung gas yang terbuat dari paduan Alumunium. Tabung gas tersedia dalam bentuk beragam mulai berukuran kecil hingga besar. Ukuran tabung ini dibuat berbeda karena disesuaikan dengan kapasitas daya tampung gas dan juga jenis gas yang ditampung.
Untuk membedakan tabung gas apakah didalamnya berisi gas Oksigen, Asetilen atau gas lainya dapat dilihat dari kode warna yang ada pada tabung itu. Table berikut ini menunjukan kode warna tabung gas untuk berbagai jenis warna.

2. Katup Tabung
Sedang pengatur keluarnya gas dari dalam tabung maka digunakan katup. Katup ini ditempatkan tepat dibagian atas dari tabung. Pada tabung gas Oksigen, katup biasanya dibuat dari material Kuningan, sedangkan untuk tabung gas Asetilen, katup ini terbuat dari material Baja.
3. Regulator
Regulator atau lebih tepat dikatakan Katup Penutun Tekan, dipasang pada katub tabung dengan tujuan untuk mengurangi atau menurunkan tekann hingga mencapai tekana kerja torch. Regulator ini juga berperan untuk mempertahankan besarnya tekanan kerja selama proses pengelasan atau pemotongan. Bahkan jika tekanan dalam tabung menurun, tekana kerja harus dipertahankan tetap oleh regulator. Pada regulator terdapat bagian-bagian seperti saluran masuk, katup pengaturan tekan kerja, katup pengaman, alat pengukuran tekanan tabung, alat pengukuran tekanan kerja dan katup pengatur keluar gas menuju selang.
4. Selang Gas
Untuk mengalirkan gas yang keluar dari tabung menuju torch digunakan selang gas. Untuk memenuhi persyaratan keamanan, selang harus mampu menahan tekan kerja dan tidak mudah bocor. Dalam pemakaiannya, selang dibedakan berdasarkan jenis gas yang dialirkan. Untuk memudahkan bagimana membedakan selang Oksigen dan selang Asetilen mak cukup memperhatikan kode warna pada selang. Berikut ini diperlihatkan table yang berisi informasi tentang perbedaan warna untuk membedakan jenis gas yang mengalir dalam selang.

Gas yang dialirkan melalui selang selanjutnya diteruskan oleh torch, tercampur didalamnya dan akhirnya pada ujuang nosel terbentuk nyala api. Dari keterangan diatas, toch memiliki dua fungsi yaitu :
a. Sebagai pencampur gas oksigen dan gas bahan bakar.
b. Sebagai pembentuk nyala api diujung nosel.
Torch dapat dapat dibagi menjadi beberapa jenis menurut klasifikasi berikut ini :
1. Menurut cara/jalannya gas masuk keruang pencampur.
Dibedakan atas :
> Injector torch (tekanan rendah)
Pada torch jenis ini, tekanan gas bahan bakar selalu dibuat lebih rendah dari tekanan gas oksigen.
>Equal pressure torch (torch bertekanan sama)
Pada torch ini, tekanan gas oksigen dan tekanan gas bahan bakar pada sisi saluran masuk sama besar.proses pencampuran kedua gas dalam ruang pencampur berlangsung dalam tekanan yang sama.
2. Menurut ukuran dan berat. Dibedakan atas :
- Toch normal
- Torch ringan/kecil
3. Menurut jumlah saluran nyala api. Dibedakan atas :
- Torch nyala api tunggal
- Torch nyala api jamak
4. Menurut gas yang digunakan. Dibedakan atas :
- Torch untuk gas asetilen
- Torch untuk gas hydrogen, dan lain-lain.
5. Menurut aplikasi. Dibedakan atas :
- Torch manual
- Torch otomatik/semi otomatik.

BAB III
Penghitungan Data dengan Menggunakan Pengukuran Kerja Teknik Tidak Langsung
Data yang diperoleh dengan menggunakan Stopwatch
Elemen kerja

Dengan rumus penetapan empirius untuk menghitung waktu pengelasan T= 0,014 L, panjang pada pengelasan penyambungan plat logam Horizontal sebesar 15 cm
Maka perhitungan yang di peroleh : T = 0,014 x 15 = 0,21 menit
Tabel dalam kelas
No ( n )
Banyak kls (unit) X
Waktu (menit) Y
X2
X.Y
1
2
60
4
120
2
3
75
9
225
3
5
120
25
600
∑
10
255
38
925

Dengan menggunakan Metode Analisis Regresi
A ( ∑ y . ∑ x2 ) – ( ∑ x . ∑ x y ) B (n . ∑ x y ) – ( ∑ x . ∑ y )
( n . ∑ x2 ) – ( ∑ x )2 ( ∑ y )2 – (n. ∑ x 2 )
= ( 255 . 38 ) – ( 10 . 255 ) = ( 3 . 925 ) – ( 10 . 255 )
( 3 . 38 ) – ( 100 ) ( 65025 ) – ( 3 . 38 )
= 9690 – 2550 = 510 menit = 2775 – 2550 = 0.0035 menit
14 64911

MATRIK DETERMINAN

13.1. Determinan

Determinan sebuah matrix bujur sangkar adalah nilai real yang dihitung dari berdasarkan nilai elemen-elemennya, menurut rumus tertentu. Jika nilai determinan itu nol, matrix bujur sangkar tersebut singular, artinya tidak memiliki invers.

Untuk matrix A  R2x2,

det (A) = det(0)= a11 a22 - a21 a12

sedang untuk A  R3x3,

det (A) = det(0)

= + a11a22a33 + a12a23a31 + a13a21a32

- a31a22a13 - a32a23a11 - a33a21a12

Tidaklah sulit untuk menghafalkan kedua rumus ini.

Nilai determinan sembarang matrix A  Rnxn, det (A) dihitung lewat expansinya atas kofaktor-kofaktornya. Ekspansi atas dasar sembarang baris i menghasilkan

det (A) = 0

dengan kofaktor didefinisikan sebagai berikut

kof (i,j) = (-1)i+j det (Aij).

Disini Aij adalah matrix A dengan elemen-elemen baris i dan elemen-elemen kolom j dibuang. Sebagai contoh, matrix

A = 0

diexpansi atas dasar baris 3. Nilai determinan adalah

det (A) = a31 kof(3,1) + a32 kof(3,2) + a33 kof(3,3) + a34 kof(3,4).

Dalam hal ini,

kof (3,1) = (-1)3+1 det(0)

kof (3,2) = (-1)3+2 det(0)

kof (3,3) = (-1)3+3 det(0)

kof (3,4) = (-1)3+4 det(0)

Jika dilanjutkan, akan diketemukan det(A) = -216. Expansi atas dasar baris atau kolom lain haruslah menghasilkan hasil yang sama, karena

det(A) = det(AT).

Rumus expansi atas dasar kofaktor itu mengisyaratkan, bahwa seyogyanya expansi dilakukan atas dasar baris atau kolom yang paling banyak mengandung elemen dengan nilai nol. Atas dasar itu dengan mudah dapat ditunjukkan, bahwa determinan matrix segitiga adalah sama dengan perkalian nilai elemen-elemen diagonalnya.


13.2. Sifat determinan

Sifat determinan yang penting adalah dibawah ini:

det(A) =  det(A)

det(AB) = det(A) det(B)

det(A+B)  det(A) det(B)

Jika sembarang dua baris dipertukarkan tempatnya, nilai determinan berubah tanda.

Nilai determinan tidak berubah, jika elemen-elemen sebuah baris ditambah atau dikurangi dengan suatu kelipatan nilai real dari

elemen - elemen dari sembarang baris lain.

Karena det(A) = det(AT), kata “baris” dalam sifat (4) dan (5) dapat diganti dengan kata “kolom”.

Sifat (5) sering dipakai untuk mengevaluasi nilai determinan sebuah matrix. Jika dengan bantuan sifat (5) dapat ditunjukkan, bahwa matrix (asli) telah berubah sehingga semua elemen-elemen dalam salah satu baris atau salah satu kolomnya bernilai nol, maka nilai determinan adalah nol. Sebaliknya, jika situasi seperti itu tidak pernah dicapai, maka dikatakan bahwa kolom-kolom atau baris-baris matrix (asli) membentuk himpunan vektor yang secara linear bebas satu sama lain (“linearly independent”).

Sebagai akibat langsung dari sifat (2), jika A = LU, dengan L dan U diperoleh dari faktorisasi Doolittle, maka

det(A) = det(L)det(U)

= det(U)

= u11  u22  u33  ...  unn.

yaitu hasil perkalian dari elemen-elemen diagonal dari U. Jadi proses faktorisasi, jika tidak mengalami kegagalan dengan sekurang-kurangnya sebuah elemen diagonal dari U bernilai nol, memberi pula nilai determinan dari matrix yang bersangkutan. Karena itu pada umumnya komputasi determinan tidak dikerjakan secara khusus.

Dalam praktek, penetapan nilai determinan juga bukan tahap komputasi yang penting, kecuali untuk kasus berikut.



13.3. Persamaan A x = 0

Tinjaulah persamaan linear A x = 0 . Diberikan A, berapa x? Tidaklah salah jika ditebak, bahwa x = 0 adalah sebuah penyelesaian. Penyelesaian ini bersifat trivial (sepele).

Apakah ada vektor x  0 yang merupakan penyelesaian persamaan linear tersebut?

Jawab atas pertanyaan ini dirumuskan dalam teorema berikut:

A x = 0 memiliki penyelesaian unik x  0 jika dan hanya jika

det(A) = 0.

Untuk membuktikannya, perhatikanlah bahwa teorema ini dapat dipecah dalam dua pernyataan:

Jika A x = 0 memiliki penyelesaian unik x  0, maka det(A) = 0.

Jika det(A) = 0, maka A x = 0 memiliki penyelesaian unik x  0 .

Kebenaran pernyataan 1 sekarang akan dapat ditunjukkan. Bertolak dari fakta bahwa “A x = 0 memiliki penyelesaian unik x  0“ maka dengan “det(A)  0” diperoleh x = A-1 0 = 0. Tetapi karena diketahui bahwa x  0 maka haruslah det(A) = 0.

Misalkan A  Rnn. Pernyataan 2 akan dibuktikan dengan argumentasi induktif. Untuk n = 1, akan dibuktikan bahwa pernyataan itu benar. Selanjutnya dengan asumsi bahwa pernyataan itu benar untuk n = k, akan dibuktikan bahwa pernyataan itu benar pula untuk n = k+1. Maka berdasarkan kedua kenyataan tersebut, disimpulkan bahwa pernyataan benar untuk semua n.

Apakah pernyataan benar untuk n = 1? Persamaan linear untuk n = 1 adalah a11 x1 = 0. Karena a11 = 0 maka a11 x1 = 0 memiliki penyelesaian unik x1  0. Jadi untuk n = 1 pernyataan itu benar adanya.


13.4. Determinan matrix (A - I)

Penetapan determinan untuk matrix (A - I) sangat kritis dalam penetapan nilai pribadi (dibahas lebih lanjut dalam Bab 9). Karena nilai itu tergantung pada , maka hanya untuk matrix ukuran kecil saja sifat-sifat determinan dapat dimanfaatkan. Untuk sembarang matrix bukur sangkar berukuran n,

det(A - I) = n + c10 c3n-2 + ... + cn-1 + cn = 0

membentuk karakteristik matrix yang bersangkutan. Koefisien-koefisien ci polinomial tersebut dapat ditetapkan dari rumus Newton:

000 = - 0

dengan i : = tr (Ai)

Untuk sembarang matrix bujur sangkar B  (bij), tr(B)  trace matrix B, yaitu jumlah elemen-elemen diagonalnya. (Ingat: tanda negatif di ruas kanan persamaan jangan dilalaikan).

Matrix ini memiliki tr(A) = 15. Berturut-turut sekarang dapat dihitung:

A2 = 0 tr(A2) =155,

A3 = 0 tr(A3) =1884,

A4 = 0 tr(A4) = 23219,

A5 = 0 tr(A5) =286555.

Dengan menyelesaikan persamaan:

00 = - 0

diperoleh

c1 = -15,

c2 = 35,

c3 = -28,

c4 = 9

c5 = -1.

Persamaan karakteristik untuk matrix ini adalah:

det(A - I) = 5 - 15 4 + 35 3 - 28 2 + 9  - 1= 0.

Tentulah, det(A - I) = 0 akan dipenuhi oleh lima buah nilai pribadi  (yang dapat berupa angka komplex). Untuk matrix ini, ternyata nilai-nilai pribadi tersebut adalah

1 = 0.2716,

2 = 0.3533,

3 = 0.5830,

4 = 1.4487,

5 = 12.3435,

yang dapat dicek dengan memasukkannya kembali ke dalam persamaan.

13.5. Teorema Cayley-Hamilton

Relasi penting telah dirumuskan dalam teorema yang diketemukan oleh Cayley dan Hamilton: “Matrix memenuhi persamaan karakteristiknya”. Maksudnya, jika dalam persamaan karakteristik,

det(A - I) = n + c1 + c2n-2 + ... + cn-1 + cn = 0

 diganti dengan A, nilai real nol diganti dengan matrix nol 0, dengan

Ao = I, maka berlaku juga relasi

An + c1An-1 + c2An-2 + ... + cn-1A + cnI = 0.

Relasi ini, antara lain karena memberi peluang kepada penetapan

A-1. Untuk maksud itu, kalikan ruas kiri dan kanan dengan A-1:

A-1 (An + c1An-1 + c2An-2 + ... + cn-1A + cnI) = A-10 = 0

Maka, melalui penataan atas suku-suku ruas kiri, dihasilkan A-1:

A-1 : = -  (An-1 + c1An-2 + c2An-3 + ... + cn-1I)


Rumus ini hanya digunakan untuk matrix ukuran kecil (mengapa?).

Diterapkan pada matrix dalam bab yang lalu, karena

c1 = -15, c2 = 35, c3 = -28, c4 = 9, dan c5 = -1, persamaan Cayley Hamilton memberi:

A-1 : = -  (A4 - 15A3 + 35 A2 -28 A + 9 I).

Hasil dimuka dapat dimanfaatkan. Pembaca diundang untuk mencek bahwa hasilnya memang dibawah ini

A-1 = 0

Relasi Cayley-Hamilton juga memberi peluang bagi penetapan sembarang fungsi matrix f(A). Sekedar untuk memberi gambaran konkrit, misalnya ingin ditetapkan f(A) 0 A100 dengan A matrix berdimensi 5 diatas. Cara yang mudah adalah meninjau fungsi skalar f() = 100. Diketahui, bahwa jika f() ibagi dengan polinomial karakteristik

(n + c1+ c2n-2 + ... + cn-1 + cn), maka tidaklah sulit untuk difahami, bahwa

f()= (n + c1 + c2n-2 + ... + cn-1 + cn)(hasil-bagi) + sisa.

Dalam rumusan ini hasil bagi adalah polinomial pangkat 100-n, dan sisa merupakan polinomial pangkat n-1 dengan bentuk umum

sisa = s1+ s2n-2 + ... + sn-1 + sn.

Koefisien polinomial sisa didapatkan langsung dari operasi pembagian tersebut. Sifat polinomial karakteristik itu membuat relasi dibawah ini benar adanya.

f() sisa = s1+ s2n-2 + ... + sn-1 + sn.

Demikian pula akibatnya, yaitu

f(A) = s1An-1+ s2An-2 + ... + sn-1A + snI.

Untuk kasus soal A100 diatas, maka sesudah n buah koefisien sisa itu didapatkan, operasi perpangkatan matrix hanya perlu dikerjakan sampai dengan pangkat 4 saja

RELAY

KATA PENGANTAR



Segala puji bagi Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Sholawat dan salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad Sew beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya.

Dan hanya dengan ridho Allah SWT, saya dapat menyusun makalah ini, walaupun masih banyak mengalami kesulitan dan kendala, namun karena terdorong oleh rasa tanggung jawab sebagai mahasiswa untuk menyelesaikan tugas makalah, maka dengan segala kerendahan hati kami menyajikan makalah ini dengan judul SISTEM ELEKTONIKA RELAY

Penyusunan tugas ini merupakan salah satu syarat yang harus di penuhi dalam mengikuti program pembelajaran perkuliahan pada jurusan Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Gresil ( UMG ).

Disadari sepenuhnya bahwa selesainya tugas ini bukan semata hasil kerja keras penyusun, tetapi berkat bimbingan Nimatul Ma’muriah, M.Eng. Selaku dosen pembimbing yang telah memberi petunjuk dalam penyusunan tugas.

Penyusun menyadari bahwa penyusunan tugas ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna, untuk itu penyusun menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan tugas ini. Semoga tugas ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak dan atas perhatiannya saya ucapkan banyak terimakasih.



Definisi

Relay adalah sebuah saklar elekronis yang dapat dikendalikan dari rangkaian elektronik lainnya. Relay terdiri dari 3 bagian utama, yaitu:

koil : lilitan dari relay

common : bagian yang tersambung dengan NC(dlm keadaan normal)

kontak : terdiri dari NC dan NO

Tentang Relay

Membedakan NC dengan NO:

NC(Normally Closed) : saklar dari relay yang dalam keadaan normal(relay tidak diberi tegangan) terhubung dengan common.

NO(Normally Open) : saklar dari relay yang dalam keadaan normal(relay tidak diberi tegangan) tidak terhubung dengan common.

Bagian-bagian relay dapat diketahui dengan 2 cara, yakni:

- dengan cara melihat isi dalam relay tersebut

- dengan menggunakan multimeter (Ohm)

Cara mengetahui relay tersebut masih berfungsi atau tidak dapat dilakukan dengan cara memberikan tegangan yang sesuai dengan relay tersebut pada bagian koilnya.

Jika kontaknya masih bekerja NC-->NO atau NO-->NC, maka dapat dikatakan bahwa relay tersebut masih dalam keadaan baik.

Hubungkan common dan NO jika menginginkan rangkaian ON ketika koil diberi tegangan.

Hubungkan common dan NC jika menginginkan rangkaian ON ketika koil tidak diberi tegangan.

Rangkaian relay pengontrol digunakan sebagai komponen kontrol untuk peralatan yang beroperasi dengan tegangan DC atau AC, sehingga memberikan perlindungan bila terjadi kerusakan port pada komputer. Relay magnetic ini merupakan sebuah kumparan dengan induktansi spesifik yang menyebabkan sebuah kontak atau sambungan untuk membuka atau menutup ketika arus spesifik memuatnya. Sambungan ini akan tetap pada posisinya sampai arus turun akan dikendalikan oleh program pascal.

Prosedur:

1. merangkai rangkaian dari skema berikut: relay -> db25

2. memberi sinyal high pada port parallel.

3. menutup saklar battery

4. membuka saklar battery

5. mengambil data

Data praktikum:

1. saklar battery tertutup, led menyala.

2. saklar battery terbuka, redup.

Pembahasan:

Skema di atas dimaksudkan untuk memanfaat riley sebagai saklar. Ketika arus mengalir dari port parallel dan saklar battery terhubung, led akan menyala. Namun begitu saklar dibuka, led akan redup walaupun port parallel memberi sinyal high.

Hal tersebut dikarenakan sifat magnet riley hilang ketika tidak ada arus dari battrey yang mengalir. Sehingga pin c terlepas dan koneksi terputus.

Relay adalah sebuah alat yang bekerja secara otomatis mengatur/ memasukkan suatu rangkaian listrik (rangkaian Trip atau Alarm) akibat adanya perubahan rangkaian yang lain

PERANGKAT SISTEM RELAY PROTEKSI

Relay Proteksi adalah suatu relay listrik yang digunakan untuk mengamankan peralatan peralatan listrik terhadap kondisi abnormal.

Relay Proteksi Pembangkit adalah suatu relay proteksi yang digunakan untuk mengamankan peralatan peralatan listrik seperti generator, trafo utama, trafo bantu dan motor-motor listrik pemakaian sendiri suatu pembangkit listrik

Yang dimaksud dengan perangkat sistem proteksi adalah:

Circuit Breaker/ Disconnecting Switch – PMT/PMB (Pemutus Tenaga/Pemutus Beban)

Trafo tegangan(PT/Potential Transformer) dan Trafo arus (CT/Current Transformer)

Battery Pengawatan

Fungsi dan Peranan Relay Proteksi:

Mengamankan Operasi peralatan pembangkit dari kecelakaan atau kerusakan yang fatal

Catatan Revisi:

Berhubung banyak yang mempermasalahkan penggunaan kaki relay no.30 & 87, maka diagram di bawah sudah di revisi, kaki no.30 ke accu, kaki 87 ke klakson/lampu. Banyak diantara kita yang kurang puas dengan suara klakson bawaan motor/mobil yang kurang keras/lantang, atau juga lampu standar yang kurang terang atau berdaya kecil Di toko partshop atau asesoris otomotif, banyak dijual klakson aftermarket yang suaranya bagus seperti Fiam, Hella, bosch, PIAA, Wolo, Hadley, fer, dsb. Klakson tersebut membutuhkan daya yang cukup besar, sayangnya kabel yang terpasang pada klakson standar bawaan motor/mobil tidak dapat mengakomodasi kebutuhan daya tersebut. Malah bisa jadi saklar klakson tersebut akan cepat rusak karena setiap kali ditekan, akan mengeluarkan percik api pada metal contact didalamnya yang lama kelamaan akan aus, bahkan plastik case nya akan meleleh. Begitu juga dengan pemasangan lampu yang berdaya lebih besar, akan berkasus sama dengan kasus di atas.Untuk menyelesaikan masalah tersebut, kita membutuhkan bantuan komponen tambahan yaitu relay.

Relay adalah suatu komponen yang digunakan sebagai saklar penghubung/pemutus untuk arus beban yang cukup besar, dikontrol oleh sinyal listrik dengan arus yang kecil.

Dengan menggunakan relay, kabel yang menuju saklar tidak perlu kabel yang tebal, sebab arus yang terhubung ke saklar sangatlah kecil.

Banyak relay yang beredar di partshop, ada berbagai merek seperti Hella, Bosch, Omron, dsb, Saya sendiri lebih memilih untuk menggunakan relay bermerek BOSCH yang asli, begitu juga dengan socket relaynya. Berikut komponen yang diperlukan untuk project ini..

- Socket Relay merek Bosch + terminal konektornya

- Relay Bosch 4 kaki tipe “0 332 019 453”

- Fuse Box (kotak sikring) + terminal konektornya

- Fuse / Sikring yang disesuaikan dengan beban arusnya .. misalnya 10 Ampere.

- Kabel tebal serabut diameter 5mm

- Terminal Ring 10mm.

Cara Pemasang..

Ada 2 macam sistem pelistrikan untuk Klakson atau Lampu, yaitu yang dikontrol oleh tegangan positif dan tegangan negatif. Biasanya sistem yang dikontrol oleh tegangan Negatif menggunakan 2 kabel. Dimana satu kabel untuk ke positif dan satu lagi ke saklar pengontrol. Sistem yang dikontrol oleh tegangan Positif, biasanya menggunakan 1 kabel saja dari saklar pengontrol. Kabel satunya lagi mengambil negatif dari ground atau body.

Manfaat yang didapat dengan menggunakan rangkaian relay ini adalah:

- klakson akan bersuara lebih keras/lantang atau lampu akan menyala lebih terang.

- saklar klakson / lampu akan lebih awet.

Jumat, 07 November 2008